Selalu Jadi Orang Pertama yang Update, Apa Anda FOMO?

Di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat tanpa batas dalam bersosialisasi merupakan efek dari adanya globalisasi dan gencar penggunaan teknologi dalam setiap aspek kehidupan, dengan begitu akan memberi dampak bagi psikologi pada masyarakat hari ini. Masyarakat hari ini tak lepas dari sosial media ataupun teknologi lain yang menunjang alur dan aktivitas kehidupan sehingga memunculkan istilah “Fomo”, FOMO adalah akronim dari fear of missing out merupakan perasaan cemas yang timbul karena sesuatu yang menarik dan menyenangkan sedang terjadi, sering disebabkan karena unggahan di media sosial.

Lalu bagaimana Fomo ini berdampak pada anak muda hari ini jelas berasal dari kehidupan mereka yang tak lepas dari melihat dan akses sosial media yang cepat tak terbatas ruang waktu, sehingga bisa membawa dampak baik ataupun buruk.

Fomo perlu diketahui juga disadari sehingga dapat diantisipasi ataupun diambil dampak baiknya bagi masyarakat global hari ini. Fomo memang lebih banyak meninggalkan kesan buruk bagi mereka yang terdampak dari penggunaan sosial media yang tak terbatas dan akan  memunculkan rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mampu untuk mengikuti aktivitas tertentu secara terus menerus. Pada saat perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal seperti itu. Rasa takut menimbulkan rasa ketertinggalan yang mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada kehidupan mereka yang mengalami Fomo itu sendiri.

Fomo dapat diketahui ketika kita tidak dapat lepas dari gadget dan terus menerus membuka sosial media dan membandingkan kepuasan dalam hidup dan lainnya dengan tanda-tanda berikut :

  1. Terus menerus membuka hp dari bangun tidur sampai tidur kembali dan dipenuhi kekhawatiran tertinggal dan merasa tidak bisa ditinggalkan.
  2. Peduli akut pada kehidupan dalam sosial media dan tidak dapat lepas serta ingin diakui di sosial media.
  3. Selalu ingin tahu kehidupan orang lain.
  4. Mengatakan “iya” bahkan disaat sedang tidak memperkenankan. Hal ini sering terjadi ketika seseorang tidak ingin ketinggalan apapun sehingga selalu menerima setiap ajakan yang sebenarnya tidak menarik atau tidak perlu.

Ketika kita mendapati orang sekitar kita terkena Fomo dapat diberikan sebuah langkah preventif agar tidak menimbulkan rasa strees dengan langkah-langkah berikut :

Fokus pada diri sendiri

Setiap orang tidak mungkin untuk terus mengikuti perkembangan setiap saat. Begitu pula dengan bahagia, seseorang tidak mungkin dalam keadaan bahagia setiap saat karena hidup itu berputar. Kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang tidak sama dalam menjalani kehidupannya.

Membatasi penggunaan media sosial dan gadget

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa salah satu penyebab FOMO dipicu oleh postingan dan update orang lain di media sosial. Karena itu, dengan membatasi diri dalam penggunaan media sosial dapat mengurangi FOMO.

Mencari koneksi nyata

Kita adalah makhluk sosial yang sejatinya membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain alih-alih hanya melakukannya lewat media sosial. Perasaan FOMO akan perlahan hilang dengan sendirinya ketika kita mengutamakan koneksi nyata.

Hargai diri sendiri

Menyadari bahwa banyak hal-hal baik yang dimiliki atau dilakukan dan selalu bersyukur atasnya, dapat mengurangi rasa iri dan rasa kekurangan pada diri. Cobalah fokus pada apa yang sedang dikerjakan saat ini alih-alih mencari pembuktian dari orang lain. Jadi, jangan menyia-nyiakan hidup dengan merasa tidak pernah cukup. Nikmatilah momen-momen yang menunggu di depan nanti dan berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain karena semua punya jalannya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.